Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Selasa, 17 November 2015

[Perjalanan Haji] Senang...Bahagia...Semangat...Antusias...Khawatir...Cemas...Setelah Mendapatkan Sesuatu yang Ditunggu Bertahun-tahun

Lebih dari setahun lalu saya dan istri melakukan perjalanan ibadah Haji. Sengaja saya tidak menuliskannya langsung karena saya ingin mengendapkannya dulu. Saya khawatir bila langsung saya tuliskan pengalaman indah itu ada terselip sikap riya' atau sum'ah di dalamnya. Saya harus menata dulu pikiran dan perasaan sampai benar-benar yakin terbebas dari penyakit-penyakit hati tersebut. Saya tidak ingin tulisan saya justru merusak kebahagiaan dan potensi kebahagiaan.


Apa yang Anda rasakan bila akan mendapatkan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu selama lima tahun? Senang...Bahagia...Semangat...Antusias...? Saya merasakan itu semua ditambah rasa cemas dan khawatir...Lho kok?

Tahun dua ribu sembilan saya mendaftar Haji bersama istri, dan mendapat informasi rencana keberangkatan pada tahun 2014. Bagi kami waktu menunggu lima tahun cukup untuk mengumpulkan uang pelunasan.
Pada tahun 2013 ada pengurangan kuota jamaah Haji karena proses pembangunan Masjidil Haram. Kami khawatir pengurangan kuota ini akan menggeser rencana keberangkatan tahun 2014, dan ALHAMDULILLAH tidak terjadi.

Pada awal tahun 2014 kami melakukan konfirmasi ke Kementrian Agama (KEMENAG) dan mendapat jawaban yang melegakan : In Sya ALLOH kami masuk daftar Jamaah Haji Indonesia tahun 2014.
Sangat senang dan bahagia akan mendapatkan apa yang kami tunggu-tunggu selama lima tahun. Kami sangat semangat dan antusias akan melakukan suatu kegiatan yang sudah terbayang sejak lima tahun sebelumnya. Tapi kami juga cemas dan khawatir...Kami khawatir akan melakukan kekeliruan yang menyebabkan hal istimewa jadi menurun kualitasnya. Kami cemas penantian lima tahun jadi sia-sia karena ketidaktahuan dan ilmu yang rendah.

Ibadah Haji adalah ibadah yang istimewa. Diwajibkan hanya bagi yang memiliki kemampuan, kemampuan untuk melakukan perjalanan menuju tanah suci Mekkah, kemampuan materi dan fisik. Jadi wajib hukumnya bagi semua umat Islam yang sudah mempunyai kecukupan materi dan kekuatan fisik untuk melakukan perjalanan ke tanah suci Mekkah. Tapi...tidak semua jamaah Haji mendapatkan manfaat dari ibadah Haji. Tidak semua jamaah Haji mencapai tujuan dari ibadah Haji. Penyebab utamanya adalah ketidaktahuan atau kebodohan. Itulah yang sangat kami khawatirkan...Yang membuat kami cemas... Karena ketidaktahuan kami khawatir kehilangan manfaat ibadah Haji yang membutuhkan biaya besar. Kami cemas akan gagal mendapatkan tujuan ibadah Haji gara-gara kebodohan, padahal harus antri bertahun-tahun untuk melakukannya.

Ada penyesalan yang muncul : mengapa selama menunggu bertahun-tahun tidak kami gunakan untuk mencari ilmu tentang ibadah Haji. Lima tahun sangatlah cukup untuk mencari dan mendapatkan ilmu tentang ibadah Haji, ilmu yang tepat dan benar. Seandainya kami melakukan itu maka tidak perlu lagi khawatir dan cemas, paling tidak kekhawatiran dan kecemasan tidak terlalu besar.

Sesal kemudian tiada guna, begitulah pesan orang-orang bijak, dan kami menyadari itu. Kami juga tidak mau terbelenggu kekhawatiran dan kecemasan. Kami harus melakukan sesuatu secepatnya, harus segera bergerak mencari ilmu menambah pengetahuan tentang ibadah Haji. Waktu hanya beberapa bulan harus kami manfaatkan maksimal untuk mendapatkan ilmu.

Maka kami mulai mencari informasi tentang cara-cara mendapatkan ilmu ibadah Haji.

Banyak yang menyarankan kami untuk bergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dari KBIH kami akan mendapatkan pelatihan dan bimbingan manasik Haji sebelum berangkat maupun saat di tanah suci Mekkah. Dan juga, saat itu sistem koordinasi persiapan pemberangkatan jamaah Haji dengan pihak KEMENAG dilakukan melalui KBIH, meskipun tidak diwajibkan tergabung dalam salah satu KBIH. Keuntungan lain tergabung dalam KBIH adalah karena pembagian kelompok dan rombongan Haji berdasarkan KBIH maka jamaah Haji akan mengenal teman-teman kelompoknya sebelum berangkat sehingga sempat melakukan pengenalan, pendekatan, dan bisa membuat rencana bersama.

Kami pun segera melakukan observasi untuk mencari KBIH yang bagus, berdasarkan kesaksian kerabat dan sahabat yang sudah pernah beribadah Haji. Dari segi biaya hampir tidak ada perbedaan yang significant. Kalau pun ada yang menarik biaya lebih tinggi itu karena fasilitasnya juga lebih banyak.

Ada beberapa KBIH yang direkomendasikan karena setiap tahun membina banyak sekali jamaah Haji. Sebagian besar KBIH tersebut akan membimbing jamaah secara intens, bahkan saat beribadah di tanah suci. Para jamaah Haji akan diajak beribadah secara berkelompok dan dibimbing sepenuhnya oleh Ustadz yang mendampingi, membaca doa secara berjamaah bersama-sama. Ada juga yang menyediakan katering makan siang saat di Mekkah (pada tahun 2014 jamaah Haji Indonesia belum mendapatkan fasilitas makan siang saat di hotel Mekkah)

Sampailah pada kami informasi tentang suatu lembaga bimbingan manasik Haji yang tidak memungut biaya sepeserpun tapi sangat profesional, memiliki kualitas layanan prima. Kami pun segera bergabung. Apa salahnya dicoba dulu, toh tanpa biaya, kalau tidak cocok kami bisa segera mencari KBIH lain. Dan ternyata kami memutuskan untuk berangkat ke tanah suci bersama lembaga ini. Kami mensyukuri keputusan tersebut dan kami meyakini kuasa ALLOH yang mengarahkannya. Kami bersyukur bukan hanya karena tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya untuk bimbingan manasik, itu hanya sebagian kecil keuntungan. Kami bersyukur karena melalui lembaga ini mendapatkan anugerah pengalaman yang terindah, yang takkan terlupakan.

Kami mendapatkan beberapa pelajaran sangat berharga dari proses pemilihan KBIH ini. Bahwa ternyata untuk mendapat sesuatu yang berkualitas tidak selalu harus ditukar dengan nominal materi yang tinggi. Bahwa ternyata nilai keikhlasan jauh lebih berharga dari berapapun uang yang kami miliki.

(bersambung)

Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Manfaat Gadget bagi Coqi?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Pertanyaannya hanya lima, tapi pada pertanyaan ketiga saya terhenti karena kesulitan menjawab.

Pertanyaan pertama : “Mulai usia berapa ananda diperkenankan memegang gadget?”

Saya menjawab tiga tahun. Saat menjawab pertanyaan pertama ini, sebelum membaca pertanyaan berikutnya perasaan saya sudah tidak enak. Dan benar, pertanyaan kedua sangat sulit dijawab.

Pertanyaan kedua : “Apa tujuan Ayah/Bunda memperkenankan ananda memegang gadget?”

Pikiran saya campur aduk karena tersadar bahwa selama ini banyak sikap kami mendidik Hanun yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Saya berusaha berpikir, mencari jawaban yang jujur dan pantas untuk pertanyaan kedua ini. Akhirnya saya menuliskan jawaban :”sekedar memperkenalkan teknologi”

Pertanyaan ketiga : “Manfaat apa yang didapat ananda dari gadget?”

Pertanyaan ketiga ini tampak pendek, tapi bagi saya terasa panjang. Bagi saya makna sebenarnya dari pertanyaan ini adalah “Manfaat apa yang bisa diberikan gadget kepada ananda yang tidak bisa diberikan oleh benda lain, yang benar-benar penting dalam proses tumbuh kembang ananda secara fisik, mental, dan sosial”
Saya benar-benar tidak mampu menemukan jawaban pertanyaan ketiga ini, maka saya tulis “nihil”.

Saya berhenti berusaha menjawab kuisioner, dan mulai berusaha berpikir untuk introspeksi tentang sikap-sikap kami dalam mendidik anak-anak. Saya teringat sempat merasa kasihan kepada Coqi dan Hanun, saat berkumpul dengan saudara-saudara sepupu mereka yang memegang gadget canggih masing-masing, Coqi dan Hanun hanya memandang dan berusaha meminjam dengan wajah melas. Saya sempat bimbang apakah langkah kami tidak membelikan gadget untuk anak-anak itu benar. Karena itu meskipun Coqi dan Hanun tidak memiliki gadget, mereka sering saya biarkan memainkan gadget milik saya atau ibunya. Setelah membaca kuisioner saya semakin mantap untuk membatasi Coqi dan Hanun memainkan gadget.

Coqi sudah punya laptop sendiri yang dia beli menggunakan uang tabungan hasil mengumpulkan uang beasiswa saat dia SD. Kami memberlakukan aturan bahwa belajar dan mengoperasikan computer/laptop harus dilakukan di ruang belajar bersama sehingga bisa saling tahu apa yang dilakukan masing-masing. Saya akan tahu apa yang dilakukan Coqi dengan laptopnya, kecuali dia sendirian di ruang belajar, sebaliknya Coqi akan selalu tahu apa yang saya lakukan dengan laptop saya. Dengan cara ini, selain untuk fungsi pengawasan, saya bisa memotivasi Coqi untuk menulis. Bukankah pendidikan yang terbaik itu dengan teladan? ALHAMDULILLAH Coqi sudah mulai aktif menulis di blog-nya http://blackbazil.blogspot.com.

Coqi sudah menyampaikan permohonan izin membeli smartphone dengan menggunakan uang tabungannya. Saya mengizinkan dengan syarat nilai hasil Ujian Nasional SMP memuaskan, dan kelak tidak dibawa ke sekolah. Saya mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat SMA karena saya merasakan ada manfaat baginya. Coqi yang bercita-cita menjadi journalist saat ini sering meminjam smartphone milik ibunya untuk searching informasi bahan tulisan (Coqi punya kebiasaan menulis secara manual bahan tulisannya di buku sebelum diketik). Dia bilang lebih praktis menggunakan smartphone dibanding laptop untuk mencari data dengan cepat. “Kalau pakai laptop itu aku khan harus menunggu saat loading awal, loading membuka aplikasi internet, keburu hilang ideku Pak…” Seandainya saya tidak melihat manfaat itu saya mungkin baru mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat lulus SMA.


Bagaimana dengan Hanun? Akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Kamis, 20 Maret 2014

8 Rahasia Sukses Ujian Nasional, Ebook dan Slide Gratis


Pada bulan Maret dua tahun lalu saya meluncurkan Ebook gratis "8 Rahasia Sukses Ujian Nasional" (8RSUN). Banyak yang mengunduh Ebook tersebut melalui Pustaka Ebook  : http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional. Banyak pula yang ikut menyebarkan Ebook tersebut melalui blog-nya masing-masing, sehingga saya tidak lagi bisa mendeteksi berapa kali Ebook tersebut diunduh, karena hanya di Pustaka Ebook yang ada deteksi pengunduhnya.


Sejak itu saya juga sering diundang untuk memberi seminar motivasi dengan tema yang sama. Awalnya saya membawakan seminar ini tanpa slide, sampai beberapa hari lalu.

Saya sering berbagi slide pelatihan di Slideshare.net/nurmuhammadian. Hampir seluruh materi pelatihan saya unggah di slideshare.net/nurmuhammadian. Banyak yang view slide saya, ada juga yang mengunduhnya.

Beberapa bulan lalu saya membuat slide tentang 8RSUN tapi hanya sebagai preview, sekedar promo untuk ebook-nya, agar lebih banyak orang yang mengunduh ebooknya dan mendapatkan manfaat. Ternyata banyak juga yang justru mengunduh slide preview tersebut. Saya agak bingung, apa manfaatnya mengunduh slide preview, sekaligus merasa terpanggil untuk segera membuat slide seminar keseluruhannya agar lebih besar manfaatnya.

ALHAMDULILLAH, beberapa hari yang lalu saya bisa merampungkan slide seminar 8RSUN dan langsung saya unggah di http://www.slideshare.net/nurmuhammadian/8-rahasia-sukses-ujian-nasional-slide. Silakan siapapun yang membutuhkannya untuk mengunduhnya, khususnya orang tua atau guru yang sedang mengantar anak-anaknya mengikuti ujian nasional. Mungkin lebih bermanfaat bila orang tua atau guru mengunduh ebook dan membacanya dulu, baru kemudian membawakan materi 8RSUN di depan anak-anak menggunakan slidenya.

Sementara saya tetap siap bila ada yang mengundang untuk membawakan materi 8RSUN ini dalam format seminar atau mini workshop, silakan hubungi saya di 081 555 88 2600 atau 081 335 088 305.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 16 Maret 2014

Golongan Putih Menurut Saya

Pada saat-saat mendekati PEMILU seperti saat ini banyak orang menggunakan istilah golongan putih (golput). Banyak persepsi orang tentang golput. Ada yang mempersepsikan golput sebagai sebuah golongan yang terorganisir. Persepsi bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir sangatlah tidak relevan, tidak sesuai fakta. Memang ada beberapa organisasi, atau kelompok terorganisir yang menyatakan secara resmi bahwa mereka tidak mau ikut PEMILU, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir.

Ada orang yang mempersepsikan golput adalah orang-orang yang tidak mau memilih saat PEMILU, secara perorangan.

Kalau saya pribadi punya persepsi bahwa golongan putih adalah orang-orang yang menyukai kedamaian, ketenangan, kesederhanaan, dan kesucian, sesuai makna tersimbol dari warna putih. Golongan putih tidak suka kebisingan yang tidak bermanfaat, kekisruhan, hujatan, apalagi fitnah yang sangat kental mewarnai kegiatan politik.

Orang golongan putih tidak mau menodai keputihannya dengan kebencian kepada sesama manusia dengan perkataan kasar atau tindakan anarkis, dan tidak mau bedekatan dengan kelompok atau orang yang seperti itu. Bila ada orang yang tidak mau memilih tapi menghujat orang yang memilih, maka sebenarnya dia bukanlah golongan putih, karena dia tidak pantas menyandang warna putih.

Orang golongan putih tidak suka kegiatan-kegiatan pamer kekuatan yang dilakukan oleh partai politik, karena bertentangan dengan kebersahajaan yang diwakili warna putih, dan cenderung memancing kedengkian. Dia memilih diam merenung, mengagungkan nama Tuhan dalam keheningan untuk meminta petunjuk pilihan yang terbaik.

Bisa jadi orang golongan putih sudah punya pilihan, dan akan  memilih saat PEMILU, tapi dia tidak mau menjelek-jelekkan kelompok atau orang yang bukan pilihannya. Dia memilih untuk bersikap baik, ramah, dan bersahabat kepada semua kelompok, semua partai, semua caleg.



Ya ,saya Nur Muhammadian masuk golongan putih dengan persepsi yang sudah saya sebutkan. Saya menghimbau Anda untuk masuk golongan putih, bagi yang ingin memilih ataupun tidak saat PEMILU nanti. Saya menghimbau para praktisi politik untuk berhenti menyebut pihak yang menghujat Anda sebagai golongan putih, sebagaimana saya menolak orang yang suka menghujat sebagai golongan putih.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Kamis, 13 Maret 2014

Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah (3 Alasan Saya Pensiun Dini 2)

Alasan #2 : Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah

Saat saya diterima di sebuah perusahaan saya harus menandatangani surat perjanjian bersedia mematuhi segala aturan yang berlaku di perusahaan tersebut.
Karena itu untuk teman-teman yang berminat jadi karyawan, baca surat perjanjian dengan teliti dan seksama. Jangan sampai teman-teman setuju terhadap hal-hal yang bertentangan dengan norma agama kita. ALHAMDULILLAH perusahaan tempat saya bekerja memiliki aturan yang tidak bertentangan dengan semua prinsip-prinsip yang saya yakini.

Dan sejak itulah saya terikat kewajiban terhadap perusahaan. Minimal lima hari setiap minggu selama delapan jam per hari waktu saya harus saya peruntukkan untuk perusahaan, seluruh delapan jam waktu saya. Dan untuk itu saya mendapatkan uang gaji yang saya terima tiap akhir bulan. Jadi bila waktu yang saya peruntukkan untuk perusahaan kurang dari yang seharusnya, apakah saya berhak menerima uang gaji seluruhnya?

Seringkali saat jam kerja muncul ide-ide di benak saya untuk saya tulis, saat jam kerja. Sering pula beberapa sahabat dan saudara tercinta berkenan bertemu saya saat jam kerja. Beberapa teman kerja ingin curhat dan minta saran di luar urusan pekerjaan saat jam kerja, dan beberapa hal lain selain urusan perusahaan, yang menurut saya suatu hal yang baik, tapi harus saya lakukan saat jam kerja.

Meskipun baik dan untuk kebaikan, bila tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan saya lakukan saat jam kerja, tetap saja tidak benar, salah. Saya menganggapnya tidak amanah menggunakan waktu, dan pengkhianatan terhadap komitmen saya sebagai karyawan.

Tidak ada cara lain, tidak ada pilihan lagi, bila saya ingin tetap berbuat baik tanpa berkhianat terhadap siapapun. Saya harus menebus lagi waktu saya yang sudah saya serahkan kepada perusahaan. Saya harus berhak sepenuhnya atas waktu yang saya miliki. Agar saya bisa menulis dengan bahagia, menulis tanpa rasa bersalah.



SAYA HARUS BEKERJA PADA SAYA SENDIRI SEHINGGA BERHAK SEPENUHNYA TERHADAP WAKTU YANG SAYA MILIKI