Selasa, 13 November 2012

Anak Aneh yang Bersahabat dengan Jarum Suntik dan Obat


Anak yang Aneh

Tidak seperti bayi pada umumnya, saya terlahir pada posisi dahi keluar terlebih dahulu. Entah apakah cara lahir tidak umum itu penyebabnya atau sebaliknya, kepala saya sangat besar saat lahir. Ibu saya yang seorang Bidan dan dokter yang membantu persalinan sempat khawatir saya menderita Hydrosephalus (penyakit kelainan genetika dengan membesarnya batok kepala karena kelebihan cairan). Karena kondisi kepala saya mengindikasikan penyakit itu, kepala besar tidak proporsional dan mata melotot. Itulah yang diceritakan Ibu saat saya sudah sekolah SMP. Yang sangat saya syukuri adalah bahwa saya tidak pernah merasa menjadi orang aneh saat di dalam rumah. Bapak, Ibu dan saudara-saudara sangat menyayangi saya dan memperlakukan seperti anak normal yang sehat. Meskipun di luar rumah banyak orang memandang aneh dan anak-anak kecil menyoraki saya sebagai anak aneh. Pernah saat sudah dewasa saya harus mewakili Bapak menghadiri undangan Tahlilan tetangga, saya berbincang dengan seorang tetangga jauh yang sudah tua yang saat itu duduk di sebelah saya.

“Rumahnya mana mas?”
“Rumah nomor satu pak…”
“Lho…Apanya pak Nur?”
“Saya anak yang nomor dua”
Si Bapak melihat saya lama, berusaha mengingat-ingat.
“Oooo yang dulu waktu masih kecil tidak normal ya…….?”
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Mungkin melihat senyum kecut saya si Bapak berusaha menetralisir kalimatnya : “Tapi sekarang ganteng kok…”

Saat masuk TK, teman-teman baru saya sudah mengejek kepala saya seperti tempe. Pada hari pertama sekolah saya pulang dengan menangis dan merajuk tidak mau masuk sekolah lagi. Akhirnya setelah dibujuk Bapak dan Ibu saya mau sekolah lagi. Sejak itu saya berusaha tidak menggubris apapun yang dikatakan orang tentang bentuk kepala saya.

Waktu SD dan SMP julukan saya “Ndas Genthong”. Waktu SMA saya dijuluki “Ndas Cebuk” (Cebuk:gayung). Meskipun berusaha tidak menggubris, sedikit banyak  ejekan-ejekan itu mempengaruhi  kepribadian saya. Pengaruh negatifnya adalah saya menjadi anak yang minder dan kurang percaya diri. Pengaruh positifnya adalah saya menjadi semangat belajar  untuk menunjukkan kepada orang-orang yang mengejek saya bahwa kepala saya besar karena isinya berkualitas.

Saya adalah anak aneh yang minder tapi semangat belajar.

Anak yang Bersahabat dengan Obat dan Jarum Suntik

Saya tidak ingat pasti tahun berapa, tidak ingat pastinya saat itu berapa usia saya. Tapi saya sangat ingat bahwa sebelum SD saya sangat akrab dengan obat dan jarum suntik. Saya sangat mengingat bentuk obatnya dan bentuk alat suntiknya.

Karena menderita Bronchitis Acut saya harus sering difoto rongent. Saya sangat mengingat beberapa kali sebulan saya bersama Ibu naik angkutan umum ke rumah sakit. Tidak hanya difoto, tapi juga diambil darah saya menggunakan alat suntik. Di rumah setiap hari Ibu yang menyuntik saya. Saya sangat suka makan telur, saya mendapat satu telur ayam kampung bila saya mau disuntik.

Sembuh dari Bronchitis, saya sakit peradangan amandel. Sekali lagi saya harus sering ke rumah sakit, disuntik dan harus minum berbutir-butir tablet yang waktu itu di mata saya terlihat sangat besar.
Dalam jarak waktu yang tidak terlalu jauh saya juga pernah menderita Typhus sehingga harus Bedrest berminggu-minggu. Untuk buang air kecil dan besar saya harus digendong ke kamar mandi. Tentu saja saya bertemu lagi dengan jarum suntik dan obat berbutir-butir.

Secara bersamaan dengan penyakit-penyakit dalam tersebut, saya juga menderita penyakit luar, penyakit kulit. Saya menderita alergi terhadap telur,ikan, dan ayam. Makanan ,yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak seusia saya saat itu, menyebabkan tumbuhnya bisul-bisul kecil di kaki saya. Bisul-bisul itu sangat banyak dan berisi nanah. Ketika pecah, cairan-cairan nanah campur darah itu lama sekali keringnya. Begitu kambuh maka membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan borok saya. Masih melekat di ingatan saya bagaimana Ibu dan Bapak secara bergantian membersihkan borok saya dan memasang perban, hampir tiap malam. Segala macam obat sudah dicoba untuk menyembuhkan borok saya. Mulai obat kimia sampai herbal. Bahkan saya juga mencoba makan kadal yang dibakar dan dimasukkan kapsul.

Dengan berbagai penyakit tersebut, saya menjadi akrab dengan obat dan jarum suntik. Bila anak-anak lain seusia saya masih sulit minum obat dan takut disuntik, saya merasa minum obat dan disuntik adalah suatu hal yang biasa, suatu rutinitas sehari-hari.Saya sudah bersahabat dengan obat dan jarum suntik saat belum usia sekolah.

Anak Aneh dan Penyakitan yang Dilimpahi Cinta dan Kasih Sayang

Seorang anak yang aneh, sering dicemoh orang, dan sakit-sakitan tentu hidupnya menderita, sangat tidak bahagia. Tapi tidak begitu yang saya rasakan. Memang ada masa-masa saya merasa tertekan dengan keanehan dan penyakit saya. Tapi tekanan itu tidak sampai mengisi sepertiga masa kecil saya. Sebagian besar saya rasakan kebahagiaan. Karena saya lahir dan tumbuh di antara orang-orang yang sangat mencintai saya.

Ayah dan Ibu yang selalu telaten merawat saya. Mereka tetap bangga dengan segala kekurangan saya. Memang mereka sangat menjaga saya agar tidak terlalu sering bertemu dengan orang-orang yang berpotensi mengejek keanehan saya. Saya selalu merasa istimewa di hadapan Bapak dan Ibu.

Bapak,Ibu dan saudara-saudara saya memberikan kekuatan sehingga saya bisa mengahadapi segala ujian kehidupan pada usia yang sangat muda. Tuhan memberi saya ujian sekaligus menganugerahkan segala kelengkapan untuk menghadapinya. ALHAMDULILLAH saya lulus ujian.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar