Minggu, 11 November 2012

Bedah Film "Invictus" untuk Memperingati Sumpah Pemuda


“Pak filmnya kok gak seru ya…”
“Kami nonton bareng nih pak. Baru awal kami sudah boring.Apalagi anak-anak SMA pak.”
“Film belum habis saya sudah ngantuk pak…”
“Film ini film drama dan plot/temponya lambat pak, bikin bosan”

Begitulah beberapa sms yang masuk (sudah saya konversi dari bahasa SMS ke bahasa yang lebih mudah dipahami) dari teman-teman pengurus FLP Malang tentang film Invictus beberapa hari sebelum acara Bedah Film di SMK Putera Indonesia Malang.

FLP Malang menerima tawaran dari yayasan Putera Indonesia Malang  (PIM) untuk merancang dan mengisi acara memperingati peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 29 Oktober 2012. Pihak yayasan mengusulkan acara nonton bareng dan membedah filmnya. Jumlah peserta ada dua ratus hingga lima ratus siswa dan kami harus mengisi acara selama empat jam. Saya sampaikan kepada teman-teman FLP Malang bahwa tawaran ini sangat menantang, karena perlu rencana, fasilitas, dan kerja lebih keras agar bisa sukses mengendalikan siswa sebanyak itu, membuat mereka antusias berinteraksi sampai akhir acara.

Kebetulan para pengurus FLP Malang sedang proses pelatihan dan peningkatan kualitas dalam berbicara di depan publik. Tawaran dari yayasan PIM akan menjadi sarana praktik langsung ke lapangan yang sesungguhnya, meskipun proses pelatihan baru lima puluh persen. Entah karena tidak ada yang berani, atau ingin menguji pelatihnya, saya yang diminta teman-teman sebagai main speaker acara ini. Saya menyanggupi dengan syarat teman-teman hadir mendukung dan membantu saya maksimal.

Agak bingung juga memilih film yang akan dipertontonkan dan dibedah bersama para siswa kelas sebelas SMK (zaman saya dulu nyebutnya kelas dua). Bila kami memutar film documenter, sangat pesimis bisa mengundang minat siswa untuk mau menonton sampai akhir, apalagi harus aktif. Namun bila kami menyajikan film laga yang seru, apa yang bisa kami bedah dan mengaitkannya dengan nilai-nilai kebangsaan dan sumpah pemuda. Ada yang mengusulkan film Vertical Limit, Merah Putih, Kung Fu Panda, dan lain-lain. Setelah kami bahas bersama belum ada film yang kami pilih sampai H-6, padahal untuk mempersiapkannya kami terpotong hari-hari perayaan Idul Adha dan pemotongan hewan kurban. Sebagian teman-teman pengurus FLP ada yang harus pulang kampong, sehingga kecil sekali kesempatan untuk berkumpul membahas dan mempersiapkan acara. Sebagai main speaker acara nanti saya merasa harus memilih dan memutuskan sendiri satu film yang harus saya siapkan sendiri, dan ternyata secara tiba-tiba terbersit film Invictus di benak saya (saya meyakini bahwa benak saya di bawah kuasa ALLOH). Saya segera mencari film itu, dan membagikannya ke teman-teman pengurus FLP Malang agar menontonnya dan memikirkan strategi penyampaian film ini kepada siswa.

Saya pribadi sangat menyukai film Invictus yang sarat pesan-pesan moral. Di film ini kita bisa menemukan pesan tentang persatuan, kepemimpinan, kemanusiaan, kebangsaan, kekuatan maaf, komunikasi, kebahagiaan, dan banyak lagi. Saya pastikan bahwa film ini adalah satu-satunya film yang pernah saya tonton yang mengandung banyak sekali pesan positif. Saya beberapa kali menontonnya dan beberapa kali pula membahas dengan anak sulung saya, Coqi, dan saat memilih film ini pun saya minta pendapatnya.

Pendapat dan kesukaan saya pada film ini ternyata tidak seirama dengan sebagian besar teman-teman pengurus FLP Malang setelah mereka menontonnya. Banyak teman-teman yang pesimis bahwa film ini bisa membuat ratusan siswa mau bertahan menonton sampai akhir dan aktif berinteraksi. SMS komentar dari mereka saya balas dengan SMS yang intinya seperti ini :
“Bila Invictus kurang bagus saya mohon bantuan teman-teman mencarikan film lain sekaligus merencanakan strategi penyampaiannya.Saya sendiri akan fokus menyiapkan Invictus.Hari Minggu sore (H-1) kita bertemu dan kita tentukan film mana yang akan kita bawakan.Misal teman-teman tidak menemukan film pengganti paling tidak saya sudah siap dengan Invictus” (Panjang juga SMS saya, mungkin terkirim dalam tiga SMS)

Pada H-1 kami memutuskan menggunakan film Invictus.

Bagaimana strategi kami? Insya ALLOH akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya. Yang pasti pada akhir acara bedah film ada sembilan puluh persen siswa yang bertahan, mereka dengan semangat dan  antusias bersama-sama membaca ikrar Sumpah Pemuda serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar