Selasa, 13 November 2012

Majalah Bahasa Jawa


Entah sejak kapan saya suka membaca, saya tidak ingat. Mungkin sejak saya bisa membaca, atau mungkin sebelumnya. Karena samar-samar saya ingat suka memandangi gambar-gambar dalam salah satu majalah anak-anak, entah usia saya berapa saat itu.

Saat saya masih kecil kemampuan ekonomi Bapak dan Ibu tidak terlalu kuat, meskipun tidak juga bisa dibilang lemah. Untuk mengalokasikan dana khusus kebutuhan membaca kadang bisa kadang tidak, lebih banyak tidak bisa. Pernah kali Ibu melangganankan kami majalah anak, tapi tidak bertahan lama. Tidak ada dana untuk melanjutkan berlangganan.Saya sangat sedih dan merasa kehilangan saat tidak lagi menerima majalah anak setiap minggu, seperti ada sesuatu yang kutunggu tapi tak kunjung datang. Kami bertiga, saya dan adik-kakak, memang selalu berebut saat majalah datang waktu masih berlangganan. Tapi sebenarnya hanya sayalah yang benar-benar menunggu dan mengharap kehadiran majalah tiap minggu. Hanya saya yang benar-benar menikmati membaca majalah. Maka hanya sayalah yang sangat kecewa dan merasa kehilangan.
gambar dari gusnardi.blogspot.com

Sebenarnya tidak semua majalah yang Ibu hentikan berlangganannya. Disisakan satu majalah, “Panjebar Semangat”, majalah bahasa Jawa dan bukan majalah anak. Tapi demi memenuhi kebutuhan, majalah itu pun saya baca sampai habis. Saya tidak begitu paham alasan Ibu tetap mempertahankan berlangganan majalah itu, mungkin karena harganya yang sangat murah, mungkin pula karena Ibu ingin mengenalkan dan memperkaya kemampuan anak-anaknya terhadap bahasa Jawa yang mulai ditinggalkan. Yang pasti hanya Ibu dan saya yang mau membaca majalah itu di rumah kami. Diskusi tentang cerpen atau cerbung Jawa, cerita wayang, atau artikel Jawa lainnya jadi acara saya dan Ibu yang tidak mungkin bisa diikuti oleh anggota keluarga yang lain.

Ternyata tradisi berlangganan majalah bahasa jawa ini sudah dimulai oleh almarhum Kakek, ayahnya Ibu. Kakek sangat perhatian dan peduli pada perkembangan Bahasa dan Budaya Jawa. Setiap bertemu beliau, saat saya masih kecil, Kakek selalu memberi wejangan tentang pentingnya mempelajari atau meningkatkan kemampuan Berbudaya Jawa khususnya Bahasa Jawa. Bahkan saya sempat segan bertemu dan berbicara dengan beliau karena Kakek selalu mengkritik ucapan Bahasa Jawa saya sekecil-detil kesalahannya.

Kegemaran atau kebiasaan saya membaca majalah “Panjebar Semangat” ternyata sangat bermanfaat bagi pelajaran Bahasa Jawa saya. Pelajaran Bahasa Jawa jadi terasa sangat mudah. Pelajaran huruf HANACARAKA yang selalu dikeluhkan oleh hampir semua teman-teman saya, saya rasakan mudah dan menyenangkan (sayangnya saat ini kemampuan itu hilang). Ujian (dulu kami menyebutnya ‘ulangan’) Bahasa Jawa adalah ujian yang saya tunggu-tunggu. Karena saya bisa menyelesaikan soal hanya dalam sepertiga waktu yang disediakan, dan malam harinya saya tidak perlu belajar atau mempersiapkan diri. Pernah saat ujian saya tertidur di atas lembar jawaban ujian, karena terlalu lama menunggu selesainya ujian dan saya malas keluar kelas bila belum ada teman yang menyelesaikan ujian. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya tidak menyadari saat Ibu Guru berkali-kali mendatangi bangku saya (saya tahu dari teman-teman). Mungkin Ibu Guru heran kok ada muridnya yang bisa tidur nyenyak saat ujian. Anehnya beliau tidak berusaha membangunkan saya. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya ngiler membasahi lembar jawaban. Saat waktu ujian habis teman-teman sibuk merampungkan jawaban, saya sibuk mengeringkan air liur pada lembar jawaban.

Beberapa waktu yang lalu saya baru menyadari ternyata Ibu masih berlangganan “Panjebar Semangat” setelah sekian lama saya tidak membacanya. Saya berencana berlangganan juga, agar anak-anak saya juga membacanya.Saya ingin meneruskan tradisi mempelajari Bahasa Jawa dan meneruskan tradisi ini kepada anak-anak saya.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar