Minggu, 25 November 2012

Menang Lomba Baca Syair Semarak Tahun Baru Hijriyah



Bulan Muharom

Syair karya Nur Muhammadian

Bulan Muharom...
Bulan pertama tahun Hijriyah
Bulan Muharom...
Adalah bulan qomariah
Bulan Muharom
Satu dari empat bulan mulia
Bulan Muharom
Bulan Rajab, bulan Dzulqo'dah, dan bulan Dzulhijah

Hari Asyuro
Hari ke sepuluh bulan muharom
Hari Asyuro
Hari diselamatkannya umat nabi Musa
Hari Asyuro
Disunahkan berpuasa



“Pak bikinkan puisi tentang tahun baru Hijriyah!” pinta Hanun setengah memerintah.
“Buat apa?”
“Untuk lomba syair di sekolahku”
“Kapan?”
“Tiga hari lagi…”
“#%&^*(&)*_)”

Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan sekarang diminta membuat puisi yang akan dibaca dalam lomba, dalam waktu tiga hari. Yang lebih menantang lagi adalah bagaimana Hanun bisa menghafal dan berlatih membaca puisi dalam waktu tiga hari, itupun kalau puisinya segera jadi. Untunglah lomba syairnya berpasangan antara ibu dan anak.

Satu hari berlalu, dan ide puisi yang akan saya buat belum terlintas di benak saya, yang berarti kesempatan berlatih juga berkurang sehari. Berarti saya harus membuat puisi pendek sehingga mudah dan cepat dihafal Hanun dan ibunya.

Saya segera browsing, baca buku, mencari informasi segala hal tentang bulan Muharom, tentang tahun baru Hijriyah. Hikmahnya, saya jadi tahu bahwa bulan Muharom bukanlah bulan hijrahnya Rosululloh, tapi bulan pertama kali para sahabat mulai berhijrah ke Madinah. Sedangkan Rosululloh baru hijrah sebulan kemudian, tepatnya di bulan Safhar (mungkin karena itu namanya Safar=perjalanan).

Saya harus membuat puisi tentang keutamaan bulan Muharom, tidak terlalu panjang agar Hanun dan ibunya mudah menghafalkannya, dan harus dirancang membacanya bergantian antara Hanun dan ibunya. Maka jadilah puisi yang pendek sederhana itu.

Waktu saya tunjukkan ke Coqi untuk minta masukan, Coqi tertawa cekikikan.
“Ini puisi atau catatan kecil Pak?”
“Ya kalau terlalu panjang nanti adik dan ibu sulit menghafalnya. Tapi rimanya ada lho meski tidak sempurna…Coba perhatikan!”
“Iya sih…” Coqi masih menahan senyumnya.
“Coqi punya ide atau tambahan lagi?”
“Belum ada Pak…” Masih dengan senyum geli.

Dalam waktu satu setengah hari Hanun dan ibunya berlatih dengan bersungguh-sungguh membaca syair ‘Bulan Muharom’. Saya dan Coqi yang menilai penampilan mereka dan memberi beberapa saran gerakan atau intonasi suara. Hanun bertugas membaca baris yang pendek dan ibunya yang panjang. Saya menyampaikan ke mereka bahwa penilaian juri kemungkinan pada gaya bersyair dan kekompakan baik dari segi kostum maupun aksi panggung.

Pada hari perlombaan saya tidak bisa hadir menonton penampilan mereka. Selesai perlombaan, sesampai di rumah, Hanun dan ibunya melaporkan bahwa hanya mereka yang membaca syair tanpa text karena hafal.

Lima hari kemudian, agak lama karena terpotong hari libur panjang, pemenang lomba diumumkan. ALHAMDULILLAH Hanun dan ibunya berhasil memenangkan lomba, jadi juara pertama. Kemenangan ini adalah prestasi resmi pertama yang berhasil dicapai Hanun. Dia sangat senang, dipandangi terus pialanya. Dipajang pialanya di ruang tamu kami. “Adik menang karena ALLOH sayang kepada anak yang rajin dan mau berusaha dengan keras dan serius…” Saya jongkok di samping Hanun menemani memandangi piala yang diletakkan di meja ruang tamu.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar