Kamis, 08 November 2012

Menebar Benih dengan Menulis, Menuai Panen yang Dahsyat


“Bapak iki cuma nandur sing akeh. Rezeki saiki tanduren kabeh, kebutuhan sesuk yo urusan sesuk iso golek maneh. Sing manen iso wae dudu Bapak, tapi anak putu mengko” (Bapak ini hanya menebar benih sebanyak-banyaknya. Rezeki sekarang tebarkan semua, kebutuhan besok urusan besok bisa dicari. Yang menuai bisa saja bukan Bapak, tapi anak cucu nanti).
Wejangan Bapak saya almarhum ini sudah saya dengar sejak saya kecil. Bapak saya hanya punya ijazah SMP, tidak punya tanah lahan bercocok tanam, tapi ‘sawahnya’ sangat luas yang sampai sekarang pun bisa saya nikmati hasil ‘panennya’.

Kemampuan saya menulis, menuangkan ide dalam tulisan, sangat saya syukuri. Karena menulis adalah proses ‘menebar benih’ yang paling rendah modal baik dalam bentuk materi maupun tenaga. Sejak dulu wejangan Bapak selalu terngiang di telinga saya, semakin menua usia semakin keras iangan itu.
Sejak saya pensiun sebagai karyawan, menjadi orang yang merdeka bertindak, saya berkomitmen menguatkan identitas saya sebagai penulis. Memilih penulis sebagai identitas bukan berarti saya merasa punya karya tulis yang bagus, tapi justru saya merasa berkewajiban selalu menulis dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

Sebagai penulis saya pun menebar benih dalam bentuk tulisan. Saya yakin semakin banyak dan luas benih yang saya tebar, semakin luas ‘sawah’ saya. Saya sudah merasakan dan membuktikan, menikmati ‘panen’ dari ‘sawah’ Bapak saya.

Bagi saya menulis adalah menebar benih, bukan proses jual beli, beda jauh. Bila saya menulis sebagai proses jual beli, maka saya hanya mendapat imbalan sesuai jumlah dan kualitas tulisan saya, hanya itu. Padahal kualitas tulisan saya masih rendah. Sedangkan bila menulis untuk menebar benih, benih itu akan tumbuh dan berkembang sehingga suatu saat saya, atau anak cucu, akan menuai panennya.
Saya sangat bersyukur mbak Evyta AR berkenan menerbitkan tulisan-tulisan saya melalui Perpustakaan Online. Saya sangat bersyukur Pak Husnun Djuraid membuka jalan untuk menulis di Malang Post. Mbak Evyta dan Pak Husnun sangat membantu saya dalam proses penebaran benih, sampai kapan pun saya tidak melupakan ini, dan semoga saya bisa selalu konsisten dalam sikap terima kasih ini. Melalui Perpustakaan Online dan Malang Post saya menebar benih, bukan berdagang atau jual beli.

Yang luar biasa adalah, ternyata, saya tidak perlu menunggu lama untuk memulai memanen ‘sawah’ saya.

Kemarin saya dan Pak Dhe Heri Cahyo bertemu dengan sebuah lembaga yang ingin mencetak Ebook saya “8 Rahasia Sukses Ujian Nasional”. Kami membahas kerjasama yang menguntungkan. Panen awal yang lumayan.


Tanggal  empat November kemarin profile saya dipasang di Malang Post satu halaman penuh ( http://bit.ly/malangpost4nov ), suatu peluang yang sangat mahal dan langka. Berapapun uang Anda, belum tentu Anda bisa membuat seorang wartawan meliput profile Anda di korannya, apalagi satu halaman penuh.
‘Panen’ awal ini membuat saya semakin semangat menebar benih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya.

Bagaimana dengan panen buku ‘Kripik untuk Jiwa’?? Insya ALLOH saya tulis setelah ini.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar