Kamis, 08 November 2012

Menebar Buku 'Kripik untuk Jiwa' Menuai Devisa


Tulisan dan buku “Kripik untuk Jiwa” adalah program ‘tebar benih’ yang paling besar ‘modalnya’. Selain dalam bentuk tulisan saya harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menerbitkan buku tersebut.
Apa alasan saya menerbitkan “Kripik untuk Jiwa” dalam bentuk buku cetak? Apakah tak cukup dengan Ebook saja?

Sampai saat ini saya tidak bisa tahan berlama-lama membaca tulisan dalam layar computer. Bahkan saat menulis pun saya perlu beberapa kali istirahat. Mungkin itu pula yang menyebabkan tulisan-tulisan saya cenderung pendek dan ringkas. Kalaupun bahasannya harus panjang saya sering memotongnya menjadi beberapa bagian. Buku “Kripik untuk Jiwa” saya cetak untuk memenuhi kebutuhan pembaca buku seperti saya.

Kalau menebar benih kok buku “Kripik untuk Jiwa” dijual? Mengapa tidak dibagikan saja?

Meskipun saya menerbitkan buku “Kripik untuk Jiwa” dengan semangat ‘menebar benih’, namun saya tidak mau memberikan buku ini ke sembarang orang. Saya tidak akan rela buku saya hanya jadi barang pajangan, atau bahkan ditelantarkan bagai nasib surat undangan yang kadaluarsa. Niat saya adalah menebar benih dalam bentuk tulisan bukan berbagi bundelan kertas. Untuk beberapa orang yang saya kenal, saya pastikan mereka berkenan membaca buku saya, saya berikan buku “Kripik untuk Jiwa” secara gratis. Saya memberi harga pada buku saya sekedar sebagai proses seleksi bahwa pemegang atau pemilik buku nanti benar-benar berminat membaca atau memanfaatkan isi buku saya.


Saya sengaja tidak membagikan buku saya secara cuma-cuma, dan menjualnya adalah juga untuk pembelajaran saya dalam menjual buku. Saya meyakini bahwa seorang penulis buku seharusnya tidaklah hanya menulis, tapi juga harus memperhatikan segala strategi untuk memasarkan bukunya, termasuk pemilihan tema dan tulisan isi buku. Semua orang yang memiliki uang pasti bisa menulis sebuah buku yang berisi apapun dengan kualitas bagaimanapun kemudian membagikannya sampai habis, namun dengan cara itu bagaimana akan terjadi proses improvement? Siapa yang akan mengevaluasi hasil tulisannya? Orang yang menerima buku secara cuma-cuma tentu saja lebih tinggi rasa segannya untuk memberikan penilaian yang obyektif dibanding orang yang merasa mengeluarkan uang untuk mendapatkan buku tersebut.

Bagaimana hasilnya?

ALHAMDULILLAH saya mendapat sejumlah uang dari hasil penjualan buku “Kripik untuk Jiwa” meskipun tidak sampai balik modal. Hasil non materilah yang saya rasakan luar biasa besar. Saya mendapatkan banyak sahabat baru yang merupakan pembaca buku saya. Saran-saran dari para pembaca juga sangat membantu saya meningkatkan kualitas diri.

Secara materi, dari hasil penjualan langsung buku “Kripik untuk Jiwa” memang tidak terlalu besar. Hasil yang tidak langsunglah yang luar biasa besar. ALHAMDULILLAH saya mendapat kontrak export kripik satu ton ke Malaysia, untuk awal. Kripik buah, bukan buku kripik. Bagaimana bisa? Sejak buku saya masih dicetak saya sudah melakukan promosi dengan gencar melalui berbagai media digital, melalui  internet maupun Blackberry Messenger. Yang lucu adalah bahwa banyak orang yang membaca promo saya menyangka saya jualan kripik beneran. Kata Pak Heri Mulyo Cahyo rugi kalau dituduh tapi tidak melakukan, maka saya akhirnya benar-benar membuka toko online kripik buah.

Ah itu sih tidak berhubungan…Bukan disebabkan buku “Kripik untuk Jiwa”…. Orang yang mengatakan seperti itu adalah orang yang tidak memahami mekanisme kehidupan, proses dalam hidup. Orang-orang seperti itulah yang selalu mengharap keuntungan langsung dari setiap hal yang dia keluarkan, dari setiap tindakan. Orang yang tidak yakin akan janji Tuhan dan maunya sukses dengan cepat dan instant.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar