Senin, 05 November 2012

Sakit Hati Coqi 2


Saat menceritakan temannya yang dia anggap bermasalah, nada suara Coqi terdengar berat dan napasnya memburu sampai terengah-engah. Bahkan dia memerlukan waktu agar bisa bernapas normal lagi selesai bercerita. Saya juga menangkap sinar kebencian di matanya saat bercerita. Saya setuju dengan Coqi bahwa temannya bermasalah, tapi Coqi sendiri sedang mengalami masalah yang tidak kalah beratnya, dendam dan kebencian. Sebagai ayahnya saya tidak ingin masalah Coqi berlarut-larut, harus segera ditangani, dibereskan. Saya tidak ingin Coqi membawa terus dendam dan kebencian di hatinya. Tapi saya juga tidak mungkin mengatakan “Kamu juga bermasalah lho Coqi!”, karena akan menambah beban pikirannya. Saya ingin dia sadar dengan sendirinya bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang harus segera diubah jadi lebih baik. Saya sarankan dia mengajak ngobrol temannya baik-baik, menggali informasi sebanyak-banyaknya.

“Hanya dengan cara itu Coqi bisa membuat dia berubah. Coqi mau khan kalau dia berubah jadi lebih baik? “ Coqi mengangguk, tapi saya rasakan keterpaksaan dalam sikapnya. “Ok…Besok laporkan bapak bagaimana hasilnya…”

Hari berikutnya saya tidak sabar menunggu laporan dari Coqi. Tapi saya berusaha menahan diri, tidak menunjukkan sikap antusias yang berlebihan, agar Coqi tidak merasa terdesak dan tertekan. Sepulang sekolah, setelah dia makan siang, saya tanyakan apa yang sudah dia lakukan di sekolah.

“Coqi sudah ngajak ngobrol si Fulan?”
“Sudah pak…Tapi dia jawabnya ngawur…” Coqi menjawab dengan nada malas tanpa semangat. “Tapi tadi aku dapat kesempatan untuk balas dendam pak….!!” Coqi kemudian meneruskan cerita dengan semangat bahwa ada temannya yang berkelahi dengan si Fulan, dan Coqi menghalangi teman-teman yang lain untuk melerai mereka sehingga membuat temannya tadi lebih leluasa menghajar si Fulan. Saya biarkan Coqi menyelesaikan ceritanya yang dia sampaikan dengan semangat menggebu.

“Coqi seneng banget si Fulan dihajar…Dendam banget ya…??”
Coqi  diam, memandangku. Meskipun samar saya menangkap kebencian dalam tatapannya.
“Iya nak…? Coqi sangat benci dan dendam kepada si Fulan?” Saya bertanya sekali lagi.
“Aku yang paling sering diganggu di kelas pak…!! Padahal aku tidak pernah mengganggu dia! Masak hanya ngelihat dia aja dia sudah marah dan ngajak berkelahi…!!”
“Coqi tahu nggak kenapa gagal ngajak ngobrol Fulan secara baik-baik? Karena di hati Coqi ada dendam dan kebencian. Dia merasakan itu lho nak…Kalau Coqi ingin merubah dia jadi baik, Coqi harus menghilangkan dulu perasaan dendam dan kebencian di hati Coqi…Coqi mau menghilangkannya?”
“Mau pak…” Coqi mengangguk pelan.
“Nggak enak khan nak menyimpan perasaan dendam dan kebencian…?”
Sekali lagi Coqi mengangguk, kali ini lebih mantap.

“Ok…Besok pagi habis subuh Coqi terapi menghilangkan dendam dan kebencian ya….?!”
(Bersambung)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar