Kamis, 08 November 2012

Sakit Hati Coqi 3


Pagi tadi, seperti yang sudah kami sepakati, Coqi menjalani terapi menghilangkan dendam dan kebencian. Kesediaan Coqi  adalah suatu hal yang sangat menggembirakan saya. Sebenarnya ada beberapa hal, menurut pengamatan saya sejak lama, yang perlu dirubah dalam diri Coqi. Tetapi saat saya menawarkan untuk terapi perubahan Coqi menolaknya.
“Nggak usah pak…Coqi nggak apa-apa kok…”

Sedih juga, saya sudah banyak membantu orang dengan terapi, tapi tidak pernah membantu anak sendiri. Karena itu pagi tadi adalah peristiwa yang sangat berarti bagi saya.

Semalam sebelum tidur saya menganalisa masalah yang dialami Coqi untuk menentukan teknik terapi apa yang akan saya gunakan. Dendam dan kebencian Coqi disebabkan karena perilaku Fulan terhadapnya, bukan karena sosok si Fulan. Jadi sebenarnya Coqi benci pada apa yang dilakukan si Fulan, dendam Coqi karena ‘terluka’ saat diganggu si Fulan. Karena peristiwanya masih ‘segar’, masih baru saja terjadi, maka ‘luka’ Coqi belum terlalu dalam dan mengakar. Saya memutuskan untuk menggunakan teknik ‘Changing Bad Memories’ oleh  Richard Bandler.

Sepulang sholat subuh kamipun memulai sesi terapi .

Kelebihan teknik NLP adalah sangat sederhana dan praktis. Saking sederhanya sehingga tidak asyik untuk diceritakan. Coqi hanya berusaha untuk membayangkan lagi, mendengar lagi, merasakan lagi peristiwa yang membuatnya sakit hati. Kemudian memasukkan ‘peristiwa’ itu dalam sebuah layar, dan membuat jadi seperti sebuah adegan film. Beberapa kali layar diputihkan, adegan dibuat jalan mundur, diulang beberapa kali, selesai. Sangat sederhana.

Alhamdulillah perasaan Coqi berubah. Saat saya tanya bagaimana perasaannya, dia mengatakan merasa lebih ringan. Kebencian dan dendam di hatinya hilang. Sakit hatinya sembuh.
“Benar sudah tidak ada dendam kepada si Fulan?” Saya memastikan
“Benar pak…Sudah hilang…” Coqi menjawab ringan
“Sudah siap ngajak ngobrol si Fulan..?”
“Siap pak….!” Nada suara Coqi terdengar bersemangat.
“Ok Bapak tunggu laporannya nanti…”

Begitulah dengan semangat baru Coqi berangkat ke sekolah.  Sekali lagi saya tidak sabar menunggu Coqi pulang sekolah. Indikasi sakit hati Coqi benar-benar sembuh bisa saya ketahui dari ceritanya.
Sepulang sekolah sebelum ditanya Coqi sudah melaporkan perkembangan misinya.
“Alhamdulillah tadi aku sudah bisa ngobrol enak dengan si Fulan pak….”
Coqi sudah bisa mendapatkan informasi alamat si Fulan, pekerjaan ayahnya dan beberapa informasi tentang keluarganya. Coqi bercerita dengan nada riang dan bersemangat.

ALHAMDULILLAH..SUBHANALLOH…ALLOHU AKBAR…Dalam hati saya berkali-kali menyebut nama Tuhan sambil mendengarkan cerita Coqi. Saya sangat bersyukur atas kesembuhan sakit hati anak sulung saya. Saya sangat mensyukuri anugerah Tuhan yang sangat besar ini. Semoga anugerah Tuhan terus mengalir pada keluarga kami.

(Tamat)
Catatan : Agar bisa membantu orang jadi lebih baik kita harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu
Untuk ‘Sakit Hati Coqi’ saya cukupkan sampai di sini.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar