Minggu, 18 November 2012

Tanpa Kritik Mana Bisa Berkembang


Saat diminta mengisi materi pada sebuah forum saya selalu mengajak istri, meskipun karena kesibukan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak selalu bisa memenuhi ajakan saya. Saya suka komentar atau kritik masukan dari istri tentang kualitas materi saya dan cara penyampaiannya. Sampai saat ini saya merasa baru istri  yang berani memberi kritik masukan tentang kualitas public speaking saya.

"Bapak tadi terlalu banyak menggunakan bahasa Jawa, terasa kurang profesional..."
"Bapak tadi terlalu kaku..."
"Bapak tadi kurang luwes..."

Begitulah komentar-komentar istri saya. Saya tidak pernah membantah komentar-komentarnya, hanya  minta penjelasan lebih detil dan minta solusi apa yang harus saya lakukan.

Beda jauh antara melontarkan celaan dengan kritik. Perbedaan terbesar adalah pada niat sang pelontar. Orang yang mencela berniat memuaskan diri sendiri dengan menjelekkan atau merendahkan orang yang dicela. Sedangkan orang yang memberi kritik berniat membantu yang dikritik menjadi lebih baik, meningkat kualitasnya.

Saya juga selalu minta masukan tentang tulisan fiksi saya kepada istri dan anak sulung saya. Sebagai anggota FLP Malang saya bersyukur punya teman-teman yang siap mengkritik tulisan-tulisan saya, atau bersedia mengedit naskah saya.

Saya yakin tanpa kritik  tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas diri. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang mendukung saya menjadi lebih baik, dengan memberi kritik.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar