Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Kamis, 08 November 2012

Menebar Buku 'Kripik untuk Jiwa' Menuai Devisa


Tulisan dan buku “Kripik untuk Jiwa” adalah program ‘tebar benih’ yang paling besar ‘modalnya’. Selain dalam bentuk tulisan saya harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menerbitkan buku tersebut.
Apa alasan saya menerbitkan “Kripik untuk Jiwa” dalam bentuk buku cetak? Apakah tak cukup dengan Ebook saja?

Sampai saat ini saya tidak bisa tahan berlama-lama membaca tulisan dalam layar computer. Bahkan saat menulis pun saya perlu beberapa kali istirahat. Mungkin itu pula yang menyebabkan tulisan-tulisan saya cenderung pendek dan ringkas. Kalaupun bahasannya harus panjang saya sering memotongnya menjadi beberapa bagian. Buku “Kripik untuk Jiwa” saya cetak untuk memenuhi kebutuhan pembaca buku seperti saya.

Kalau menebar benih kok buku “Kripik untuk Jiwa” dijual? Mengapa tidak dibagikan saja?

Meskipun saya menerbitkan buku “Kripik untuk Jiwa” dengan semangat ‘menebar benih’, namun saya tidak mau memberikan buku ini ke sembarang orang. Saya tidak akan rela buku saya hanya jadi barang pajangan, atau bahkan ditelantarkan bagai nasib surat undangan yang kadaluarsa. Niat saya adalah menebar benih dalam bentuk tulisan bukan berbagi bundelan kertas. Untuk beberapa orang yang saya kenal, saya pastikan mereka berkenan membaca buku saya, saya berikan buku “Kripik untuk Jiwa” secara gratis. Saya memberi harga pada buku saya sekedar sebagai proses seleksi bahwa pemegang atau pemilik buku nanti benar-benar berminat membaca atau memanfaatkan isi buku saya.


Saya sengaja tidak membagikan buku saya secara cuma-cuma, dan menjualnya adalah juga untuk pembelajaran saya dalam menjual buku. Saya meyakini bahwa seorang penulis buku seharusnya tidaklah hanya menulis, tapi juga harus memperhatikan segala strategi untuk memasarkan bukunya, termasuk pemilihan tema dan tulisan isi buku. Semua orang yang memiliki uang pasti bisa menulis sebuah buku yang berisi apapun dengan kualitas bagaimanapun kemudian membagikannya sampai habis, namun dengan cara itu bagaimana akan terjadi proses improvement? Siapa yang akan mengevaluasi hasil tulisannya? Orang yang menerima buku secara cuma-cuma tentu saja lebih tinggi rasa segannya untuk memberikan penilaian yang obyektif dibanding orang yang merasa mengeluarkan uang untuk mendapatkan buku tersebut.

Bagaimana hasilnya?

ALHAMDULILLAH saya mendapat sejumlah uang dari hasil penjualan buku “Kripik untuk Jiwa” meskipun tidak sampai balik modal. Hasil non materilah yang saya rasakan luar biasa besar. Saya mendapatkan banyak sahabat baru yang merupakan pembaca buku saya. Saran-saran dari para pembaca juga sangat membantu saya meningkatkan kualitas diri.

Secara materi, dari hasil penjualan langsung buku “Kripik untuk Jiwa” memang tidak terlalu besar. Hasil yang tidak langsunglah yang luar biasa besar. ALHAMDULILLAH saya mendapat kontrak export kripik satu ton ke Malaysia, untuk awal. Kripik buah, bukan buku kripik. Bagaimana bisa? Sejak buku saya masih dicetak saya sudah melakukan promosi dengan gencar melalui berbagai media digital, melalui  internet maupun Blackberry Messenger. Yang lucu adalah bahwa banyak orang yang membaca promo saya menyangka saya jualan kripik beneran. Kata Pak Heri Mulyo Cahyo rugi kalau dituduh tapi tidak melakukan, maka saya akhirnya benar-benar membuka toko online kripik buah.

Ah itu sih tidak berhubungan…Bukan disebabkan buku “Kripik untuk Jiwa”…. Orang yang mengatakan seperti itu adalah orang yang tidak memahami mekanisme kehidupan, proses dalam hidup. Orang-orang seperti itulah yang selalu mengharap keuntungan langsung dari setiap hal yang dia keluarkan, dari setiap tindakan. Orang yang tidak yakin akan janji Tuhan dan maunya sukses dengan cepat dan instant.

Sakit Hati Coqi 3


Pagi tadi, seperti yang sudah kami sepakati, Coqi menjalani terapi menghilangkan dendam dan kebencian. Kesediaan Coqi  adalah suatu hal yang sangat menggembirakan saya. Sebenarnya ada beberapa hal, menurut pengamatan saya sejak lama, yang perlu dirubah dalam diri Coqi. Tetapi saat saya menawarkan untuk terapi perubahan Coqi menolaknya.
“Nggak usah pak…Coqi nggak apa-apa kok…”

Sedih juga, saya sudah banyak membantu orang dengan terapi, tapi tidak pernah membantu anak sendiri. Karena itu pagi tadi adalah peristiwa yang sangat berarti bagi saya.

Semalam sebelum tidur saya menganalisa masalah yang dialami Coqi untuk menentukan teknik terapi apa yang akan saya gunakan. Dendam dan kebencian Coqi disebabkan karena perilaku Fulan terhadapnya, bukan karena sosok si Fulan. Jadi sebenarnya Coqi benci pada apa yang dilakukan si Fulan, dendam Coqi karena ‘terluka’ saat diganggu si Fulan. Karena peristiwanya masih ‘segar’, masih baru saja terjadi, maka ‘luka’ Coqi belum terlalu dalam dan mengakar. Saya memutuskan untuk menggunakan teknik ‘Changing Bad Memories’ oleh  Richard Bandler.

Sepulang sholat subuh kamipun memulai sesi terapi .

Kelebihan teknik NLP adalah sangat sederhana dan praktis. Saking sederhanya sehingga tidak asyik untuk diceritakan. Coqi hanya berusaha untuk membayangkan lagi, mendengar lagi, merasakan lagi peristiwa yang membuatnya sakit hati. Kemudian memasukkan ‘peristiwa’ itu dalam sebuah layar, dan membuat jadi seperti sebuah adegan film. Beberapa kali layar diputihkan, adegan dibuat jalan mundur, diulang beberapa kali, selesai. Sangat sederhana.

Alhamdulillah perasaan Coqi berubah. Saat saya tanya bagaimana perasaannya, dia mengatakan merasa lebih ringan. Kebencian dan dendam di hatinya hilang. Sakit hatinya sembuh.
“Benar sudah tidak ada dendam kepada si Fulan?” Saya memastikan
“Benar pak…Sudah hilang…” Coqi menjawab ringan
“Sudah siap ngajak ngobrol si Fulan..?”
“Siap pak….!” Nada suara Coqi terdengar bersemangat.
“Ok Bapak tunggu laporannya nanti…”

Begitulah dengan semangat baru Coqi berangkat ke sekolah.  Sekali lagi saya tidak sabar menunggu Coqi pulang sekolah. Indikasi sakit hati Coqi benar-benar sembuh bisa saya ketahui dari ceritanya.
Sepulang sekolah sebelum ditanya Coqi sudah melaporkan perkembangan misinya.
“Alhamdulillah tadi aku sudah bisa ngobrol enak dengan si Fulan pak….”
Coqi sudah bisa mendapatkan informasi alamat si Fulan, pekerjaan ayahnya dan beberapa informasi tentang keluarganya. Coqi bercerita dengan nada riang dan bersemangat.

ALHAMDULILLAH..SUBHANALLOH…ALLOHU AKBAR…Dalam hati saya berkali-kali menyebut nama Tuhan sambil mendengarkan cerita Coqi. Saya sangat bersyukur atas kesembuhan sakit hati anak sulung saya. Saya sangat mensyukuri anugerah Tuhan yang sangat besar ini. Semoga anugerah Tuhan terus mengalir pada keluarga kami.

(Tamat)
Catatan : Agar bisa membantu orang jadi lebih baik kita harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu
Untuk ‘Sakit Hati Coqi’ saya cukupkan sampai di sini.

Menebar Benih dengan Menulis, Menuai Panen yang Dahsyat


“Bapak iki cuma nandur sing akeh. Rezeki saiki tanduren kabeh, kebutuhan sesuk yo urusan sesuk iso golek maneh. Sing manen iso wae dudu Bapak, tapi anak putu mengko” (Bapak ini hanya menebar benih sebanyak-banyaknya. Rezeki sekarang tebarkan semua, kebutuhan besok urusan besok bisa dicari. Yang menuai bisa saja bukan Bapak, tapi anak cucu nanti).
Wejangan Bapak saya almarhum ini sudah saya dengar sejak saya kecil. Bapak saya hanya punya ijazah SMP, tidak punya tanah lahan bercocok tanam, tapi ‘sawahnya’ sangat luas yang sampai sekarang pun bisa saya nikmati hasil ‘panennya’.

Kemampuan saya menulis, menuangkan ide dalam tulisan, sangat saya syukuri. Karena menulis adalah proses ‘menebar benih’ yang paling rendah modal baik dalam bentuk materi maupun tenaga. Sejak dulu wejangan Bapak selalu terngiang di telinga saya, semakin menua usia semakin keras iangan itu.
Sejak saya pensiun sebagai karyawan, menjadi orang yang merdeka bertindak, saya berkomitmen menguatkan identitas saya sebagai penulis. Memilih penulis sebagai identitas bukan berarti saya merasa punya karya tulis yang bagus, tapi justru saya merasa berkewajiban selalu menulis dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

Sebagai penulis saya pun menebar benih dalam bentuk tulisan. Saya yakin semakin banyak dan luas benih yang saya tebar, semakin luas ‘sawah’ saya. Saya sudah merasakan dan membuktikan, menikmati ‘panen’ dari ‘sawah’ Bapak saya.

Bagi saya menulis adalah menebar benih, bukan proses jual beli, beda jauh. Bila saya menulis sebagai proses jual beli, maka saya hanya mendapat imbalan sesuai jumlah dan kualitas tulisan saya, hanya itu. Padahal kualitas tulisan saya masih rendah. Sedangkan bila menulis untuk menebar benih, benih itu akan tumbuh dan berkembang sehingga suatu saat saya, atau anak cucu, akan menuai panennya.
Saya sangat bersyukur mbak Evyta AR berkenan menerbitkan tulisan-tulisan saya melalui Perpustakaan Online. Saya sangat bersyukur Pak Husnun Djuraid membuka jalan untuk menulis di Malang Post. Mbak Evyta dan Pak Husnun sangat membantu saya dalam proses penebaran benih, sampai kapan pun saya tidak melupakan ini, dan semoga saya bisa selalu konsisten dalam sikap terima kasih ini. Melalui Perpustakaan Online dan Malang Post saya menebar benih, bukan berdagang atau jual beli.

Yang luar biasa adalah, ternyata, saya tidak perlu menunggu lama untuk memulai memanen ‘sawah’ saya.

Kemarin saya dan Pak Dhe Heri Cahyo bertemu dengan sebuah lembaga yang ingin mencetak Ebook saya “8 Rahasia Sukses Ujian Nasional”. Kami membahas kerjasama yang menguntungkan. Panen awal yang lumayan.


Tanggal  empat November kemarin profile saya dipasang di Malang Post satu halaman penuh ( http://bit.ly/malangpost4nov ), suatu peluang yang sangat mahal dan langka. Berapapun uang Anda, belum tentu Anda bisa membuat seorang wartawan meliput profile Anda di korannya, apalagi satu halaman penuh.
‘Panen’ awal ini membuat saya semakin semangat menebar benih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya.

Bagaimana dengan panen buku ‘Kripik untuk Jiwa’?? Insya ALLOH saya tulis setelah ini.

Senin, 05 November 2012

Sakit Hati Coqi 2


Saat menceritakan temannya yang dia anggap bermasalah, nada suara Coqi terdengar berat dan napasnya memburu sampai terengah-engah. Bahkan dia memerlukan waktu agar bisa bernapas normal lagi selesai bercerita. Saya juga menangkap sinar kebencian di matanya saat bercerita. Saya setuju dengan Coqi bahwa temannya bermasalah, tapi Coqi sendiri sedang mengalami masalah yang tidak kalah beratnya, dendam dan kebencian. Sebagai ayahnya saya tidak ingin masalah Coqi berlarut-larut, harus segera ditangani, dibereskan. Saya tidak ingin Coqi membawa terus dendam dan kebencian di hatinya. Tapi saya juga tidak mungkin mengatakan “Kamu juga bermasalah lho Coqi!”, karena akan menambah beban pikirannya. Saya ingin dia sadar dengan sendirinya bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang harus segera diubah jadi lebih baik. Saya sarankan dia mengajak ngobrol temannya baik-baik, menggali informasi sebanyak-banyaknya.

“Hanya dengan cara itu Coqi bisa membuat dia berubah. Coqi mau khan kalau dia berubah jadi lebih baik? “ Coqi mengangguk, tapi saya rasakan keterpaksaan dalam sikapnya. “Ok…Besok laporkan bapak bagaimana hasilnya…”

Hari berikutnya saya tidak sabar menunggu laporan dari Coqi. Tapi saya berusaha menahan diri, tidak menunjukkan sikap antusias yang berlebihan, agar Coqi tidak merasa terdesak dan tertekan. Sepulang sekolah, setelah dia makan siang, saya tanyakan apa yang sudah dia lakukan di sekolah.

“Coqi sudah ngajak ngobrol si Fulan?”
“Sudah pak…Tapi dia jawabnya ngawur…” Coqi menjawab dengan nada malas tanpa semangat. “Tapi tadi aku dapat kesempatan untuk balas dendam pak….!!” Coqi kemudian meneruskan cerita dengan semangat bahwa ada temannya yang berkelahi dengan si Fulan, dan Coqi menghalangi teman-teman yang lain untuk melerai mereka sehingga membuat temannya tadi lebih leluasa menghajar si Fulan. Saya biarkan Coqi menyelesaikan ceritanya yang dia sampaikan dengan semangat menggebu.

“Coqi seneng banget si Fulan dihajar…Dendam banget ya…??”
Coqi  diam, memandangku. Meskipun samar saya menangkap kebencian dalam tatapannya.
“Iya nak…? Coqi sangat benci dan dendam kepada si Fulan?” Saya bertanya sekali lagi.
“Aku yang paling sering diganggu di kelas pak…!! Padahal aku tidak pernah mengganggu dia! Masak hanya ngelihat dia aja dia sudah marah dan ngajak berkelahi…!!”
“Coqi tahu nggak kenapa gagal ngajak ngobrol Fulan secara baik-baik? Karena di hati Coqi ada dendam dan kebencian. Dia merasakan itu lho nak…Kalau Coqi ingin merubah dia jadi baik, Coqi harus menghilangkan dulu perasaan dendam dan kebencian di hati Coqi…Coqi mau menghilangkannya?”
“Mau pak…” Coqi mengangguk pelan.
“Nggak enak khan nak menyimpan perasaan dendam dan kebencian…?”
Sekali lagi Coqi mengangguk, kali ini lebih mantap.

“Ok…Besok pagi habis subuh Coqi terapi menghilangkan dendam dan kebencian ya….?!”
(Bersambung)

Sakit Hati Coqi 1


“Pak…Kalau ada orang tidak sadar bahwa dia bermasalah, bisa nggak diterapi?” Coqi bertanya saat mendampingi dan melihat saya sedang mengolah ‘kripik’.

“Bila seseorang tidak sadar bahwa dia bermasalah, pasti dia juga tidak punya kemauan untuk berubah. Diterapi berapa jam pun tidak akan bisa berubah, tidak akan sembuh.  Dalam semua metode pengobatan, termasuk pengobatan medis, yang paling penting adalah kemauan sang pasien untuk sembuh…Obat atau terapi hanyalah sarana. Dan hanya Tuhan yang kuasa menyembuhkan. Bahkan bila seseorang punya kemauan yang tinggi untuk sembuh, dengan Ridlo Tuhan orang itu bisa sembuh tanpa obat atau pengobatan….Kenapa nak? Kenapa Coqi tanya seperti itu?”

Coqi menghela napas panjang, kemudian mulai bercerita. Anak saya yang mulai remaja itu bercerita tentang seorang temannya di kelas yang sangat sering mengganggu dirinya. Coqi merasa temannya tersebut punya jiwa yang tidak stabil, dan Coqi jadi pelampiasannya di kelas. Saya mendengarkan dengan seksama. Yang menarik adalah ekspresi Coqi saat bercerita, sangat emosional, seperti ada sesuatu yang sangat besar yang ia tahan. Berdasarkan cerita Coqi, saya setuju bahwa temannya punya masalah yang harus ditangani. Tapi bagi saya, Coqi-lah yang harus saya tangani secepatnya. Karena dia menyimpan dendam yang sangat besar, penyakit hati yang sangat fatal dampaknya bagi hidupnya nanti.

“Coqi ajak omong dia baik-baik ya…Tanyakan bagaimana keluarganya…Bagaimana ayah dan ibunya…Besok ya Coqi tanyakan” Saya memberi saran, dan hanya dijawab anggukan dengan napas yang masih memburu penuh emosi.

(Bersambung)
Catatan : Kesembuhan adalah Kemauan dari sang pasien, bukan tentang obat atau pengobatan.