Jumat, 22 Februari 2013

Mandi dan Hidup Efektif


Gaya hidup efektif dan bahagia saya terapkan di rumah, lingkungan terkecil dan paling dekat hidup saya. Di rumah kami, saya biasakan melakukan sesuatu dengan efektif. Sebelum melakukan sesuatu kami harus tahu dan paham manfaatnya. Meskipun sulit kami harus melakukannya bila manfaatnya besar.

Dari hal-hal terkecil kami usahakan selalu efektif. Misalkan masalah jadwal mandi. Kami sekeluarga punya kesepakatan untuk tidak memiliki jadwal mandi, alias suka-suka. Kalau tidak perlu ya tidak mandi, tapi minimal sekali sehari. Sebaliknya kami bisa mandi berkali-kali sehari, sesuai kebutuhan. Kami berpedoman pada agama dan kesehatan dalam menentukan manfaat  mandi.  Selain agama dan  kesehatan, kami juga memperhatikan kebaikan dan kenyamanan orang lain. Meskipun sudah dua kali mandi, tapi karena berkeringat badan jadi bau tidak sedap, kami mandi lagi. Sebaliknya kami sering hanya mandi sekali karena badan masih bersih, tak berkeringat dan wangi sampai tidur malam hari.

Jadi masalah mandi ini kami benar-benar menggunakan azaz manfaat, bukan sekedar rutinitas tradisi.
Masalahnya, tidak semua orang di sekitar kami bisa memahami azaz manfaat mandi yang kami anut. Contohnya adalah peristiwa saat kami berkunjung dan menginap di rumah Ibu saya selama liburan sekolah.
Ibu saya, Utinya Coqi, memegang teguh tradisi sejak lama, mandi dua kali sehari. Sehingga beliau tidak berkenan saat Coqi menolak disuruh mandi sore “Badanku masih bersih Uti…Baru tadi siang Aku mandi dan sekarang belum kotor dan tidak berkeringat….”. Neneknya tidak bisa menerima alasan Coqi.

Saya panggil Coqi…

“Bapak menghargai pendirian Coqi tidak mau mandi sore, berdasarkan gaya hidup efektif kita. Tapi dalam mempertimbangkan manfaat Coqi juga harus memperhatikan konteks. Meskipun Coqi tidak kotor dan masih wangi, Coqi harus menghargai kebiasaan di rumah Uti…Coqi harus menjaga kebahagiaan Uti…Kali ini Coqi harus mandi karena manfaat yang besar, kebahagiaan Uti…”

Coqi harus belajar bahwa membahagiakan orang adalah pertimbangan tertinggi gaya hidup efektif setelah ajaran agama.



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar