Kamis, 28 Maret 2013

Menyesal tapi Tidak Menyesali


Waktu kecil dulu saya menderita sakit kulit sehingga dilarang makan daging ayam, telur, dan segala makanan yang terbuat dari mahluk laut. Dokter bilang saya alergi. Saya 'hanya' boleh makan daging sapi, kambing, dan bahan nabati. Saat-saat itu saya sering mengeluh, rewel, bahkan mogok makan bila tidak tersedia lauk daging atau jeroan sapi. Saya tidak peduli apakah kondisi keuangan orang tua saya memungkinkan selalu menyediakan lauk seperti itu.

Mengapa saya yang sakit? Mengapa hanya saya yang sakit? Saya tidak bisa makan makanan enak yang bisa dimakan saudara-saudara atau teman-teman sebaya. Saya merasa menjadi 'korban', korban penyakit. Karena merasa banyak hak-hak yang tidak bisa saya terima, hak makan telur, daging ayam, dan ikan laut, saya merasa layak mendapatkan kompensasi. Saya merasa sudah sepantasnya mengeluh dan minta diperlakukan istimewa.

Bila mengingat masa-masa itu, saya sekarang menyesal sekaligus geli sekaligus malu. Saya menyesal karena ternyata pada masa itu saya tidak bisa mensyukuri nikmat yang luar biasa. Saya dulu terlalu terpaku pada makanan yang pantang saya makan, padahal masih banyak makanan yang boleh saya makan. Seharusnya saya berpikir 'hanya' dilarang makan beberapa makanan, bukan berpikir 'hanya' boleh makan beberapa makanan. Karena merasa menjadi 'korban' saya merasa pantas mengeluh dan menuntut macam-macam. Padahal apa yang sudah disediakan orang tua sudah sangat istimewa dibandingkan yang diterima anak-anak lain, saudara-saudara dan teman-teman, dan saya tidak bersyukur sehingga saya kurang bahagia saat itu.
Saya geli karena ternyata masa itu saya meributkan dan membesar-besarkan masalah yang sepele. Saya hanya sakit kulit yang tidak mengancam jiwa, tapi saya bertindak seakan-akan menderita penyakit yang menyiksa sepanjang hidup saya. Bersama dengan bertambahnya usia ternyata alergi saya berangsur-angsur hilang.
Saya malu kepada anak-anak saya, Coqi dan Hanun, yang lebih sabar saat sakit, lebih bersyukur sehingga lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Coqi dan Hanun bila sakit tidak pernah mengeluh dan jarang sekali rewel.

Sekarang, saya sangat mensyukuri hidup. Meskipun saya menyesal atas tindakan bodoh saya menghadapi sakit pada masa kecil, tapi saya tidak menyesali pengalaman itu karena itu yang membangun kekuataan saya sehingga bisa seperti saat ini.
Saya bangga kepada Coqi dan Hanun. Saya bersyukur bahwa ada perbaikan dan peningkatan kualitas  antar generasi. Saya malu dengan masa lalu saya, tapi sekarang saya tidak boleh memalukan mereka. Saya harus membuat mereka bangga dengan berubah, belajar dari mereka.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar