Sabtu, 01 Maret 2014

Anakku...Mencintalah dengan Mulia



Bapak lihat kumismu mulai rapat tumbuh, kaubilang bulu- bulu di bagian lain juga begitu. Tubuhmu semakin tinggi melampauiku. Suaramu membesar, dan sudah beberapa kali muncul jerawat di mukamu.

Kau semakin dewasa anakku. Kau sedang dalam proses perubahan besar secara fisik. Hormon-hormon kelelakianmu mulai aktif.

Sementara mengikuti perubahanmu,, Bapak juga mendapati berita dan kabar perilaku teman-temanmu, anak-anak seusiamu, yang melakukan perbuatan hina.
Bapak menyadari bahwa sejak dulu, saat Bapak seusiamu, sudah banyak anak-anak remaja berbuat seperti itu, tapi saat ini semakin gila dan hina.

Bapak tahu, karena pernah merasakannya, bahwa seiring perubahan fisik emosimu juga tumbuh. Kau sudah mulai merasakan hasrat kepada dia yang cantik, dan itu normal anakku. Hasratmu adalah hal yang wajar, kau tak berdosa memilikinya, terima dan berbahagialah.

Berhati-hatilah memilih tindakan mengikuti hasrat itu anakku...
Hasratmu bisa tumbuh, atau pergi dan berganti.
Hasratmu bisa tumbuh menjadi cinta yang mulia, atau tumbuh liar menjadi nafsu yang hina, dan kamu sendirilah yang memilihnya.
Bila kau memilih cinta, maka ujungnya adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tapi bila kau membiarkan hasratmu berubah menjadi nafsu liar maka ujungnya adalah kehinaan dan penderitaan.

Coqi anakku...
Kau pastilah tahu mana yang harus kau pilih. Tapi waspadalah pada nafsu bertopeng cinta. Berhati-hatilah terhadap rayuan hina berbalut cinta.
Bila kau mencintai dia yang cantik dan indah, pastilah kau tak akan rela dia menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Bila kau mencintainya, kau tak akan tega melihatnya mabuk kepayang karena bunga-bunga rayuanmu sehingga tak bisa berbuat yang lebih berguna. Bila kau mencintainya, kau akan tegas menjawab ajakannya : "Kau cantik dan indah, semoga Tuhan membuat ahlakmu lebih cantik dan indah"

Coqi anakku...
Wanita itu diciptakan Tuhan untuk dicintai dan dimuliakan, sebagaimana Bapak mencintai dan memuliakan Ibumu, dan banyak cara untuk itu.

Saat belum menjadi istrimu, cintailah dia yang cantik dengan memberinya waktu untuk tumbuh semakin cantik dan mulia, jangan kau ganggu. Ubahlah cinta di hatimu menjadi karya-karya sesuai kemampuanmu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi semakin indah dan mulia. Senandungkan bait-bait cintamu hanya saat bersujud di hadapan Yang Maha Penyayang, pasrahkan kepada NYA.


Bila kau jaga cintamu bertumbuh semakin mulia, maka suatu saat nanti tiba waktunya kau dipersandingkan dengan dia yang paling cantik dan mulia, seindah dan semulia cintamu.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar