Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar