Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar