Rabu, 06 Desember 2017

Sabar, Kekuatan Besar Pemadam Api Kemarahan

Sejak dahulu saya selalu salut dan kagum kepada orang-orang yang sabar.


Sejak kecil, dengan segala dinamika dan pengalaman (akan saya ceritakan pada kesempatan lain), saya adalah pribadi yang temperamental. Konyolnya, dulu saya bangga menjadi orang yang pemarah. Dengan pemahaman yang sempit dulu saya menganggap bahwa orang pemarah sehingga ditakuti (lebih tepatnya dijauhi sih...) orang itu gagah dan keren. Sekali lagi karena kegagalan memahami, saya anggap diri saya keren seperti Umar bin Khattab ra atau Pak Sakerah yang garang. Di kemudian hari saya sadar bahwa ternyata Umar bin Khattab bukanlah pribadi pemarah yang temperamental, atau marah secara sembarangan, tapi seorang yang tegas menghadapi kemungkaran sehingga dijuluki Al Faruq. Sedangkan Pak Sakerah ternyata juga bukan tokoh putih yang patut jadi teladan.

Terapi jiwa, Terapi Emosi

Semakin dewasa saya semakin merasakan derita kemarahan. Dari diri sendiri, saat marah saya rasakan beberapa organ tubuh tidak bekerja dengan benar : kepala pusing berdeyut, dada berdebar, persendian kaku dan pegal, mata panas, nafas tersengal. Dan ternyata butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan kondisi badan menjadi normal kembali. Umur semakin bertambah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan tubuh akibat kemarahan.

Akibat yang lebih merusak dari kemarahan adalah yang dirasakan orang-orang di sekeliling saya, lingkungan sekitar,  orang-orang yang saya sayangi. Di awal pernikahan dulu rumah tangga saya dihiasi oleh suara keras bentakan dan air mata tangisan, bentakan saya versus tangisan istri. Sejak Coqi (anak sulung) lahir saya sudah menerapkan pendidikan yang tegas (lebih tepatnya : keras) kepadanya, suatu pilihan langkah yang fatal. Sampai saat ini Coqi memiliki kelemahan mental gara-gara sikap keras saya, atau mungkin lebih cocok disebut cedera mental. Dia selalu mati gaya, salah tingkah, bila menghadapi orang lain saat berada di dekat saya dan ibunya, tidak mampu bersikap normal apa adanya. Sementara bila merasa tidak sedang kami awasi dia bisa bebas berekspresi dan sikapnya sangat positif. Sampai saat ini Ibunda saya enggan menegur saya, masih menganggap saya sekeras dulu. “Aku mending ngomong ke kamu...Aku tidak ingin menimbulkan dosa pada Dian karena membantahku...” begitulah kira-kira yang disampaikan Ibunda kepada istri saya. Ibunda mungkin sudah merasakan sakit hati berkali-kali karena ucapan kasar saya sejak kecil, semoga ALLOH mengampuni saya dan membahagiakan Ibunda.
Bahkan fisik sayapun berubah. Wajah saya mengeras, saat terdiam tanpa senyum, orang mengira saya sedang marah, dan memang sulit sekali bagi saya untuk tersenyum. Itu dulu sebelum saya sadar dan berubah.

Bila malam tiba, saat orang-orang yang saya sayangi sudah tertidur, saya sering menangis memandangi mereka. Betapa kejam saya sudah tega menyakiti hati mereka, yang menyayangi saya dan berusaha membahagiakan saya. PENYESALAN...Itulah buah kemarahan. Meskipun saat ini saya sudah berubah banyak, menghilangkan kebiasaan marah, penyesalan itu masih tertinggal. Saya sengaja membiarkan beban penyesalan itu, meskipun saya bisa menguranginya, agar lebih mudah mengeluarkan air mata untuk membasahi hati agar semakin lembut. Yang penting sekarang saya berusaha keras tidak lagi menambahnya.

Saat semakin terbebas dari kemarahan, saat ini saya menaruh iba kepada orang-orang yang suka mengumbar kemarahan karena yakin bahwa mereka sedang menumpuk-menggunungkan penyesalan. Saya yakin jiwa mereka semakin berat, semakin penat, semakin menderita. Semakin lama mereka dengan kemarahannya, semakin banyak kerusakan yang hampir tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Saat ini, zaman now, di era digital-era gadget-era sosmed mudah sekali orang mengobarkan kemarahan di ‘depan umum’. Mudah sekali orang mengumbar sumpah serapah, makian hina, komentar nyinyir, dan yang lebih memprihatinkan : mereka bangga dengan kobaran amarahnya. “Status-statusku sendiri, wall-wall-ku sendiri terserah aku...”. Mereka menganggap kemarahannya masuk ranah pribadi, padahal status mereka disetting untuk dibaca umum. Ibaratnya, mereka marah-marah diteras rumah dengan suara keras menggunakan pengeras suara.
Saya sangat mengasihani mereka karena yakin mereka orang-orang yang jauh dari bahagia. Mereka menganggap kobaran api kemarahan akan mampu mengurangi penderitaan mereka. Alih-alih mengurangi penderitaan, kemarahan mereka telah ‘membakar’ lingkungan sekelilingnya dan arang tak akan bisa dikembalikan menjadi kayu. Percayalah...mereka akan dipenuhi penyesalan, itu pasti karena saya dulu pelakunya.

Karena itulah saya sangat mengagumi orang sabar, orang yang sabar ya...bukan orang yang suka menahan kemarahan. Karena dua hal tersebut sangat berbeda. Orang yang terbiasa menahan kemarahan bukanlah orang sabar. Mereka marah tapi dipendam sendiri, mungkin yang tahu hanya diri sendiri, atau sikap marah mereka tidak terlihat berapi-api. Orang-orang seperti itu akan mengalami banyak penyakit fisik. Kemarahan adalah api, dan api yang ditahan tetaplah api yang panas membakar. Bayangkan menahan api berkobar di dalam tubuh Anda...
Api bukanlah ditahan, tapi dipadamkan. Memang berat memadamkan api, lebih berat dibanding menahannya apalagi mengumbarnya, tapi jauh lebih besar manfaatnya dan jauh lebih kecil dampak buruknya. Butuh kekuatan besar untuk memadamkan api kemarahan. Itulah orang sabar, punya kekuatan besar untuk selalu memadamkan api kemarahan. Orang sabar pantang mengumbar kemarahan, karena itu adalah perbuatan orang lemah yang tidak berdaya menghadapi kemarahannya sendiri, orang kalah = pecundang. Orang sabar juga enggan menahan-nahan kemarahan, mungkin sebentar saja menahannya dan langsung menghilangkannya. Orang sabar selalu punya sumber daya untuk memadamkan api kemarahan.

Bertahun-tahun saya berusaha mengumpulkan kekuatan kesabaran, kekuatan untuk memadamkan api kemarahan. Bukan hal yang mudah bagi saya yang sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan kemarahan, tapi saya ingin bahagia dan membahagiakan. Menurut saya, dan sangat meyakininya, selama ada kemarahan tidak akan ada kebahagiaan. Saya yakin saya bisa karena orang sabar bukanlah mitos. Orang sabar bukanlah cerita legenda belaka. Orang sabar itu nyata, ada di sekeliling kita, dan kita bisa menjadi salah satu dari mereka.
Saya mau, berniat kuat menjadi orang sabar dan ALHAMDULILLAH sejauh ini  saya berhasil berubah, dan saya mengajak Anda...Anda mau...?

Semoga ALLOH meridloi usaha kita....

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar