TAHUN 2015

Setiap hari dia menaiki sepeda onta tua berkeliling mengunjungi murid-muridnya. Memakai baju batik santai dengan celana bahan berwarna gelap, bersepatu sandal. Menggunakan topi polka warna putih yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Di belakang sepeda tersampir tas kulit tua berisi beberapa buku, netbook dan Ipad. 
Muridnya adalah anak-anak yang tidak mampu sekolah atau tidak punya waktu untuk datang ke sekolah formal karena sibuk bekerja menyambung hidup. Mereka berkumpul di gedung-gedung sederhana yang sudah dia sewa untuk ruang belajar. 
Ilmu yang dia ajarkan bukan hanya ilmu-ilmu formal yang ada dalam kurikulum pemerintah, namun juga ilmu-ilmu praktis yang dibutuhkan murid-muridnya untuk meraih impian mereka. Dan mungkin ilmu-ilmu tentang kewirausahaan lebih dominan dia ajarkan dibandingkan ilmu formal kurikulum. Karena dia juga sudah menyediakan perpustakaan yang berisi lengkap buku-buku ilmu formal, dan seluruh muridnya dia arahkan untuk membaca habis buku-buku dalam perpustakaannya.

Setiap malam dia koreksi dengan teliti pekerjaan murid-muridnya. Setelah itu mempersiapkan apa yang akan ia ajarkan keesokan harinya. Diperas pikirannya untuk bisa mendapatkan metode paling baik agar bisa membuat murid-muridnya berubah menjadi lebih baik, menjadi yang terbaik.

Setiap tahun dia sempatkan menulis dan menerbitkan buku-buku. Beberapa kali setiap bulan dia sempatkan pula membagi ilmunya di beberapa komunitas.

Rumahnya selalu terbuka untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, baik materi maupun non materi. Dengan senang hati dia sedekahkan waktunya untuk mengobati orang-orang yang mengeluhkan fisik atau jiwa.

Bila dibutuhkan, untuk berbagi dia luangkan waktu bepergian ke luar negeri. Bersama istri dan anak-anaknya, karena dia ingin menularkan semangat berbagi kepada mereka. Karena anak-anaknyalah yang kelak meneruskan komitmen pengabdiannya, kepada ALLOH, dengan berbagi.

0 komentar:

Poskan Komentar